Cerita Kesaksian Bagaimana Adikku Mendapat Beasiswa Masuk Sekolah STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) di Bekasi | Pertobatan | Teguran dari Roh Kudus | Revisi Tulisan dari Sebelumnya | Sekolah Taruna Milik Pemerintah | Kejadiannya Sungguh Ajaib
"Kak, aku ingin kuliah." kata adikku suatu hari.
"Oh, tentu saja dik, kamu harus kuliah agar ada dikeluarga kita yang jadi sarjana dan kita doa sama-sama ya dik, supaya ada jalan terbaik untuk kamu bisa kuliah tahun ini" sahutku.
"Iya kak, aku akan berusaha sungguh-sungguh, lagipula aku kan anak pramuka kak aku pantang menyerah hehe." sahut adikku semangat.
Aku mendesah didalam hati, memikirkan keuangan kami untuk menguliahkan adikku. "Oh Tuhan, bukalah jalan bagi kami." desahku gundah. Aku memandangi wajah adikku yang sedang asyik menghabiskan makanannya. Sepiring penuh meluap nasi dengan lauk sambal teri pedas kesukaannya dan sayur tumis pucuk daun singkong plus tambahan sambal cabai. Hmmm..Adikku memang pecinta makanan pedas rupanya.
Kami adalah tiga saudara. Aku punya satu orang abang yang juga sudah menikah dan satu orang adik laki-laki. Jadi aku adalah anak tengah dan satu-satunya anak perempuan. Abangku dulu tidak kuliah sebab tidak ada biaya, begitu pula denganku aku juga tidak bisa kuliah dikarenakan keterbatasan dana dari orang tua kami, dimana ayahku hanya seorang pekerja swasta buruh pabrik. Tetapi saat tamat SMA aku langsung bekerja dan kemudian aku mulai kuliah sambil kerja. Tetapi hanya berlangsung sampai 4 semester saja oleh karena aku kemudian menikah dan pindah keluar kota mengikuti suamiku bekerja, dan kami langsung dianugerahkan seorang anak hingga aku memutuskan berhenti bekerja dan juga stop kuliah karena aku mengalami mual dan masa-masa ngidam. Tetapi hingga kini aku tidak meneruskan kuliah lagi.
Aku dan adikku memiliki hubungan yang cukup erat. Sejak kecil adikkulah yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, dan aku juga salah satu yang mengajarinya naik motor. Saat aku telah menikah dan pindah keluar kota, yang begitu kurindukan adalah adik kecilku saat itu. Namun ketika dia datang berkunjung kerumahku untuk pertama kalinya, tiba-tiba sosok anak kecil SD telah berubah menjadi anak SMP remaja. Aku sempat terkejut akan perubahannya. Hoho... adikku telah puber rupanya.
Kemudian dia mulai memasuki bangku SMA, dan tubuhnya semakin tinggi atletis.
Adikku ini memiliki karakter yang kuat. Dia adalah sosok yang percaya diri dan juga pintar. Dia memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dia suka mengikuti berbagai kegiatan pramuka yang cukup melelahkan. Adikku cukup banyak memiliki prestasi baik dibidang akademik maupun non akademik. Namun keterbatasan biaya lah yang sering membuat langkahnya terbatas.
Bulan April 2018 adikku menyelesaikan UAS dan UN. Beruntung adikku dia termasuk kedalam angkatan dimana sistem penilaian menggunakan hasil UN (Ujian Nasional) telah dihapus. Dan kini sistem kelulusan telah berubah, yaitu mengambil nilai dari selama tiga tahun belajar di SMA dan tidak lagi semata-mata hanya berdasarkan hasil UN. Aku ingat di zaman angkatanku dan abangku dulu, dimana masih memakai hasil nilai UN dengan passing grade minimal. Jika hasil nilai dibawah passing grade minimal, maka dipastikan siswa tersebut tidak akan lulus dan harus mengulang setahun lagi. Dulu ada begitu banyak siswa yang tidak lulus sebab sistem pembulatan dikertas jawaban yang memakai pensil 2B ternyata sering tidak dapat terbaca oleh komputer dikarenakan pembulatan yang tidak penuh atau kurang tebal atau bahkan kertas yang berlubang oleh karena terlalu keras membulati kertas jawaban. Ada banyak anak yang menangis karena tidak lulus disetiap pengumuman kelulusan. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Bahkan abangku sendiri merupakan salah satu anak yang tidak lulus kala itu dan harus mengulang sekolah kembali setahun lagi dan betapa frustasinya abangku saat itu.
Melalui pramuka adikku mengenal banyak orang dan mendapat banyak pengalaman baru yang perlahan mengubah pola pikirnya. Aku melihat adikku semakin dewasa dan memiliki problem solving yang baik jika sedang menghadapi suatu persoalan. Adikku cukup konsisten didalam pramuka. Hingga dia semakin cinta pramuka. Perlahan tapi pasti dia mulai menampakkan prestasinya. Melalui pramuka untuk pertama kalinya dia menginjak tanah Jakarta dalam rangka RAINAS (Raimuna Nasional) yang diadakan 4 tahun sekali. Adikku sering mengikuti kegiatan-kegiatan perkemahan dalam dunia pramuka, dia semangat mencoba yakin semoga melalui pramuka dapat membuka jalan untuk masa depannya. Hal ini cukup bagus, begitu pikirku.
Namun, aku mulai sedikit khawatir akan adikku. Dia mulai semakin sibuk didalam kepramukaannya, dan dia mulai terlalu lelah dan tidak nafsu makan sehingga makannya mulai tidak teratur. Jam tidurnya pun mulai tidak terkontrol. Badannya yang dulu mulai terlihat gagah berisi mulai menjadi kurus. Ditambah pula dengan jerawat yang semakin banyak bermunculan diwajahnya. Oh, kasihan sekali adikku.
Aku mulai menasihatinya, namun dia seperti tidak mau mendengarkanku. Dia mulai terlalu obsesi dengan kepramukaan. Kalau pulang sekolah dia tidak langsung makan melainkan tidur mengunci diri didalam kamar. Lelah katanya. Tapi anehnya kalau tiba-tiba mendapat telepon dari kakak pembina dipramuka, dia langsung sigap lupa akan lelah dan perut laparnya. Nah, apalagi kalau hari minggu mau ke gereja, bangun setengah jam sebelum jam ibadah dimulai, dan itu juga karena kami bangunkan dengan sedikit memaksa. Sungguh ironi. Pramuka yang membawanya kedalam prestasi tetapi juga membuatnya menjadi pribadi yang lebih pemalas rupanya.
Suatu hari adikku mendapat tawaran masuk perguruan tinggi di Yogyakarta melalui kakak senior yang kuliah disana dan adikku mengenalnya melalui pramuka. Dia menawarkan adikku kuliah disana dan sebagai kakak seniornya, dia akan membantu adikku berhasil masuk kesana kalau-kalau adikku gagal memasuki tes SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri)
Lalu mulailah adikku berburu berbagai ragam tes masuk perguruan tinggi. Diantaranya adalah adikku mengikuti tes beasiswa dari perusahaan didaerah kami untuk kuliah D3 di Bandung, dan adikku juga mendaftar tes SBMPTN, lalu kemudian dia juga mengikuti tawaran tes beasiswa dari kabupaten masuk sekolah taruna STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) yang ada di Bekasi.
Ternyata tidak semudah itu untuk menjalani semua program tes-tes masuk perguruan tinggi. Dan yang jenisnya beasiswa sekalipun bukan berarti tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Adikku mengerjakan segala tes ini dan itu, hilir mudik antar kecamatan, dan juga dia jadi harus sering ke kota dimana kami tinggal disuatu daerah tingkat kecamatan saja. Bisa dibayangkan seberapa jauh jarak-jarak yang harus ditempuh antar kecamatan saja sudah berjam-jam apalagi kalau mau ke kota. Dan adikku berpergian hanya menggunakan motor kecil kesayanganku yang berteknologi
matic yaitu Honda Beat berwarna putih.
Disinilah letak salah satu pergumulan kami sekeluarga, yang mana lagi-lagi adalah tentang biaya. Belakangan ini usaha ledeng air yang keluargaku jalankan baru sekitar dua sampai tiga tahun saja, mulai mengalami kemerosotan. Disebabkan oleh karena air PDAM dari pemerintah yang akhirnya masuk kedaerah kami. Air dari pemerintah biayanya sangat jauh lebih murah sebab disubsidi dari pemerintah untuk masyarakat. Sehingga banyak pelanggan air kami yang berhenti berlangganan dan kalaupun masih berlangganan, pemakaian mereka sangat jauh berkurang sehingga mempengaruhi pendapatan usaha air ledeng kami dan pemilik usaha lainnya didaerah kami. Inilah dilemanya, disatu sisi aku lega masyarakat dapat menikmati air dengan biaya murah, namun disatu sisi pula kami mulai mengalami kebangkrutan.
Aku memang telah menikah dan sebetulnya tidak tinggal bersama orang tua dan abangku bersama istri dan anaknya dirumah keluarga besar kami. Namun seperti ceritaku dikisah-kisahku yang lain bahwa saat itu aku tinggal bersama keluargaku karena kehamilan anak keduaku Ceo dan aku tinggal disana sampai aku melahirkan dan Ceo berusia 6 bulan kemudian kami pindah lagi ke luar negeri. Dan tentu saja uang bulanan yang dikirim oleh suamiku untukku, kupakai juga untuk membiayai kebutuhan keluarga dan menolong keluarga. Dan abangku juga sudah bekerja, namun besarnya semua kebutuhan hidup sekeluarga, lalu untuk membiayai sekolah adikku, dan ditambah harus membayar utang dibank yang saat itu dipakai untuk membuka usaha keluarga dan hal lainnya membuat keluarga kami cukup masih bergumul diarea keuangan.
Lalu ternyata adikku tidak lulus ujian SBMPTN dan juga gagal mengikuti tes beasiswa dari perusahaan untuk kuliah D3 di Bandung. Adikku mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Dia mulai lesu. Sementara teman-temannya lulus SBMPTN bahkan ada yang lulus dalam beberapa jurusan sekaligus. Setiap postingan ucapan selamat di media sosial atas berhasil diterimanya anak-anak mereka di universitas membuat kami bersedih untuk adikku yang tidak lulus. Dan terbayang dibenak kami setiap perjuangan jerih lelah adikku memperjuangkan dirinya dan ditambah lagi biaya-biaya yang tidak sedikit telah dikeluarkan. Uuh..sesak rasanya.
Tetapi kami menyerahkan semuanya ditangan Tuhan. Lagi-lagi kami hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Segala pekerjaan dan usaha telah kami kerjakan dan sisanya kami serahkan kepada Tuhan. Perjalanan iman bersama Tuhan tentu ada suka dan dukanya. Dan berkat Tuhan tidak dilihat berdasarkan seberapa besar berkat yang diterima namun kekuatan untuk dapat melewati semuanya yang merupakan proses didalam dapur api untuk memurnikan kita. Mungkin saat ini adalah salah satu dapur api buat kami dan lebih khusus lagi buat adikku untuk membentuk dia menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
Saat itu adikku sedang berada dikota dalam salah satu urusan untuk tes-tes yang sedang ia jalani, dan aku pun mem-WhatsApp adikku "Sudahlah dik, mungkin Tuhan punya jalan yang lain untukmu dan seandainya jika kamu berhasil lulus masuk universitas di tahun ini, tetap saja keluarga kita saat ini masih kesulitan untuk membiayainya dik." hiburku sedih.
"Iya kak, aku tau." sahut adikku pilu.
"Lalu apa rencanamu kedepannya dik?" tanyaku kemudian.
"Aku akan tetap meneruskan sisa-sisa perjuanganku mendapat beasiswa di STTD kak, kan hasil tes tahap berikutnya belum keluar, dan masih ada harapan kak. Tetapi seandainya jika aku tidak lolos juga disini maka aku akan merantau ke Jogja saja kak, mungkin aku akan ambil tawaran dari kakak senior pramukaku kuliah disana dan aku akan kuliah sambil kerja. Dengar-dengar biaya kuliah di Jogja murah, dan biaya hidup disana juga jauh lebih murah daripada di Sumatera." jelas adikku tiba-tiba bersemangat kembali. Hmm..adikku memang sosok yang kuat, gumamku bersukacita.
Akhirnya hanya program beasiswa dari kabupaten untuk bersekolah taruna di STTD yang tinggal tersisa untuk adikku. Dan inilah yang paling sulit dari semua program masuk universitas yang dia ikuti dan inilah juga yang paling bergengsi dari semua yang diikutinya. Sungguh tak terbayang rasanya jikalau adikku sampai benar-benar lulus disini, rasanya sungguh menjadi kebanggaan dan sukacita bagi kami sekeluarga. Pertama dapat beasiswa penuh, lalu karena ini program dari pemerintah Kabupaten, maka setelah lulus dari STTD adikku langsung diangkat menjadi PNS level lumayan meskipun baru lulus dan langsung bekerja. Oh rasanya sangat menjanjikan. Tetapi kami bagai bertaruh dengan waktu pula, sebab semua tes-tes beasiswa STTD ini ada begitu banyak tahapan dan memakan banyak waktu, kalau adikku akhirnya tidak lolos maka dipastikan tahun ini dia tidak bisa kuliah karena sudah terlambat untuk mengikuti pendaftaran kuliah ditempat lainnya. Dan sebetulnya pula hanya 5 orang anak yang akan mendapat beasiswa, dan sisanya jika berhasil lolos tes sekalipun maka harus membiayai sendiri biaya kuliah di STTD yang ternyata sangat mahal dua sampai tiga kali lipat jika dibandingkan sekolah di universitas lainnya. Oh, bagai makan buah simalakama ini namanya.
Kami pun berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus. Aku bahkan pernah mengalami mujizat saat aku diluar negeri bisa kembali ke Indonesia meskipun sementara. Maka Tuhan Yesus juga pasti sanggup menolong membuka jalan bagi adikku. Tetapi tidak hanya berdoa saja, namun sikap hati dan perilaku kita sebagai anak Tuhan harus juga dijaga untuk tetap berada didalam kekudusan. Bapa disurga sangat mengasihi kita, Dia bahkan lebih dari ingin untuk selalu memberkati dan memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya. Sama seperti seorang ayah kepada anak kesayangannya, apalagi bahkan Bapa disurga yang adalah Tuhan yang begitu mengasihi kita.
Terpujilah nama Tuhan Yesus yang membentangkan langit dan menciptakan bumi dengan segala isinya. Akhirnya tahap demi tahap tes beasiswa STTD tersebut adikku berhasil melaluinya. Dan akhirnya adikku benar-benar lolos seleksi dan telah diterima menjadi salah satu taruna dari Sumatera. Adikku juga berhasil mendapatkan beasiswanya dan mendapat penempatan kerja PNS didaerah Sulawesi kelak jika telah lulus. Sungguh benar-benar suatu keajaiban adikku berhasil mendapatkan beasiswanya dan di STTD pula. Oh bangganya aku kepada Tuhan Yesus yang mengangkat adikku seperti ini. Sungguh bukan karena kuat dan hebatnya atau pintarnya adikku, namun semua ini benar-benar hanya karena anugerah Tuhan. Oh, thank you Jesus.
Mazmur 5:11 (TB) (5-12) Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu.
Terbayang dibenakku saat-saat perjuangan adikku dulu untuk bisa lolos seleksi tahap demi tahap. Adikku rela bergadang hanya untuk menunggu berhasil submit data oleh karena jaringan yang lelet. Adikku harus bolak balik kecamatan menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya dibawah terik panasnya matahari yang begitu menyengat maupun hujan deras hanya menggunakan motor Honda Beat kecil yang sudah hampir menjadi ringkih karena sebegitu seringnya dipacu dijalan berbatu-batu, becek berdebu dengan tidak wajarnya yang seharusnya motor jenis ini hanya bisa dibawa diaspal mulus jalanan kota saja. Sering kali adikku ditelepon mendadak untuk mengikuti pelatihan ini dan itu atau untuk tes ini dan itu dari pemerintah kabupaten katanya, dan mereka sengaja memberi informasi mendadak untuk melatih mental dan fisik para calon taruna sebab sekolah taruna di STTD juga berbasis semi militer. Belum lagi biaya-biaya operasional yang harus kami keluarkan selama perjalanan tes ini.
Kini setahun sudah adikku telah menjalani masa-masa menjadi taruna di STTD Bekasi. Tinggal tersisa tiga tahun lagi agar adikku berhasil lulus sampai D4 yang setara dengan S1. Ada suatu cerita pula dibalik D4 ini, yaitu saat disuruh memilih program studi dari D1, D2, D3 sampai D4 ternyata setiap program studi semakin tinggi maka semakin kecil kuota beasiswa bagi setiap anak yang berarti semakin kecil potensi kelolosannya. Sehingga akhirnya banyak anak yang tidak berani memilih program yang lebih tinggi dan banyak yang memilih program D1, D2 dan D3 saja dengan harapan agar mereka lebih besar mendapat peluang beasiswanya dan jikalau ingin melanjutkan lagi lebih mudah untuk masuk STTD nya lagi tetapi harus dengan biaya sendiri tentunya jika melanjutkan sendiri. Nah, adikku sendiri tidak tergoyahkan dia tetap sejak awal menargetkan D4. Sehingga puji Tuhan ketika dia berhasil lolos, dia benar-benar mendapat program D4 dengan beasiswa. Haleluya !
Dan kini kami pun mengerti mengapa adikku diijinkan Tuhan untuk tidak lolos SBMPTN dan gagal mengikuti tes beasiswa D3 ke Bandung, ternyata karena justru kalau adikku lolos disana maka akan membuat kami bingung kemana sebaiknya adikku melanjutkan pendidikannya. Sebab semuanya berbenturan dengan waktu, terbayang seandainya dia lulus seleksi SBMPTN tentulah ditengah-tengah dia masih mempunyai harapan dan mengikuti tes beasiswa STTD dia juga terpaksa mengikuti program mahasiwa baru di kampus saat itu karena masuk dikampus lebih awal, lalu tentu pula harus membayar biaya pendaftaran ulang dengan jumlah yang tidak sedikit. Begitupula dengan kalau-kalau lulus beasiswa D3 ke Bandung entah akan bagaimana jadinya. Ternyata Tuhan mau melepaskan kami dari biaya-biaya ini dan mau memfokuskan kami kepada beasiswa STTD yang terbaik yang telah Tuhan Yesus sediakan. Lalu aku pun teringat 3 tahun yang lalu adikku juga sempat sangat kecewa karena tidak lulus ujian seleksi masuk SMA bergengsi di kotaku. Kami pun baru mengerti sebab Tuhan benar-benar telah menyediakan beasiswa STTD ini untuk adikku. Karena kalau dia ada di SMA bergengsi di kota itu, maka tentulah adikku tidak bisa ikut seleksi program beasiswa STTD ini karena program beasiswa diadakan oleh Pemda Kabupaten sehingga tidak termasuk sampai provinsi di ibu kota. Sedangkan lokasi SMA favorit impian adikku dulu itu ada dikota. Dan terbayang pula tentu adanya biaya masuk kesekolah itu jika melalui program beasiswa sekalipun dan rata-rata yang masuk kesana memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Oh Tuhan, karyaMu memang luar biasa, rencanaMu indah dan rancanganMu adalah rancangan damai sejahtera.
Saat ini ketika aku ada di luar negeri dan adikku ada di Bekasi kami menjadi cukup sulit berkomunikasi. Apalagi karena peraturan yang cukup ketat menjadi pelajar taruna tidak boleh sembarangan membawa alat komunikasi. Adikku bercerita betapa kerasnya pendidikan taruna yang menjadikan dia menjadi pribadi yang semakin takut akan Tuhan dan merasa benar-benar ingin mengandalkan Tuhan. Karakternya menjadi benar-benar terbentuk. Kini hanya Tuhan Yesus lah yang benar-benar dapat menyertai adikku disana. Tuhan Yesus memberkati. AMEN.
Revisi tulisan dari penulis
( Confession )
Jujur, aku sedih melihat tubuh adikku yang semakin kurus saja sebab kadang-kadang dia tidak makan katanya untuk menghemat biaya atau juga kadang karena sudah terlalu lelah sehingga tidak nafsu makan. Tetapi cukup beruntung adikku adalah seorang anak pramuka sehingga segala tes fisik seperti ini sudah biasa adikku lakoni sehingga dia tidak terlalu terkejut. Tetapi kami juga harap-harap cemas sebab ada banyak anak yang ikut mendaftar menjadi saingan berkompetisi, dan juga kami mengkhawatirkan kalau-kalau ada intrik-intrik KKN (korupsi kolusi dan nepotisme) didalam program ini, sehingga sekalipun misalnya adikku secara fisik dan tes akademik lolos, namun jikalau ada oknum-oknum tertentu didalamnya tentu bisa saja terjadi kecurangan. Lalu kami mulai berifikir juga untuk jaga-jaga dan waspada dan kami pun memutuskan untuk memakai hikmat duniawi, tidak tanya Tuhan dan sempat ditegur hati nurani yang aku yakin itu Roh Kudus, namun sepertinya kami terlalu takut kalau adikku dicurangi, akhirnya kami mencoba menghubungi seseorang yang katanya bisa menolong back up ke jalur bupati dan kami memberi uang kepada beliau awalnya satu juta lalu saat adikku sudah lulus kami beri ucapan terimakasih lagi sebanyak satu juta.
Tetapi saat-saat ini, Roh Kudus tegor saya dan jujur saya akhirnya berani revisi tulisan saya ini setelah pernah mempublikasikannya, juga setelah saya dapat tegoran dari Tuhan melalui seorang hamba Tuhan dalam khotbahnya di Youtube yang berjudul Warning! Ketidakmurnian dan Akibatnya. Sehingga akhirnya memberanikan saya menulis revisi ini. Namun sebetulnya saya sadari bahwa tanpa kami menghubungi orang tersebut dan memberikannya uang sekalipun, adikku pasti akan lulus dalam kemurnian bersama Tuhan. Tetapi kami melakukan kesalahan dan tidak benar-benar memakai iman kami, kami justru mencoba pakai cara-cara dunia karena takut kalau yang lain korupsi sekalipun kami murni. Dan memang kalau dilihat secara hasil dari nilai tes adikku rata-rata nilainya tinggi dan kami punya keyakinan bahwa adikku akan lulus, namun hanya karena kami khawatir akhirnya adikku akan tersingkir kalau kami tidak ikut mem-back up, sehingga kami ikut pakai cara back up segala yang artinya sama saja dengan menyogok yang bertentangan dengan kemurnian didalam Firman Tuhan , dan Tuhan membenci hal itu. Baca Yesaya 1:22-23a Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air. Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. dan Yesaya 1 : 25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.
Dan entah benar atau tidak orang tersebut bisa membantu kami atau entah sudahkah beliau membantu kami, atau ternyata malah beliau tidak ada kontribusi sama sekali, hanya kebodohan kami yang memakai hikmat duniawi, sebab ternyata pada akhirnya semua para peserta tes yang dua belas orang akhirnya diluluskan Pemda Kabupaten dengan berbagai pertimbangan termasuk adikku. Benar-benar rasanya seperti ditampar kebenaran Firman Tuhan, bahwa toh pada akhirnya sisa yang dua belas ini lulus semua, dan tidak bergantung pada hikmat duniawi yang kami pakai. Yang mana sebetulnya Tuhan memang sudah sediakan kelulusan bagi kedua belas anak dari satu kabupaten ini. Bahkan contohnya ada yang ditengah-tengah tes mengundurkan diri karena biaya tes fisik yang cukup mahal saat itu, dan kebetulan anak itu lulus ujian SBMPTN dan sudah membayar biaya registrasi yang tidak sedikit jumlahnya untuk masuk universitas. Tetapi mengejutkan ternyata dari Pemda Kabupaten tidak mengizinkan anak itu mengundurkan diri begitu saja malahan dibantu biaya tes fisik untuk STTD. Wow, sungguh mujizat bisa terjadi kepada siapa saja. Tuhan mengasihi semua orang. Didalam Matius 5:45 b. Tuhan menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
Dalam kesaksian saya ini, saya ingin mengatakan bahwa kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja. Bahkan saat kami telah berbuat ketidakmurnian, Tuhan Yesus masih mengasihi kami. Tuhan tidak serta merta mencabut pertolonganNya bagi kami. Tetapi dengan kasih, Ia menegor saya dan kita semua dan memberi kita kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan kita. ~ sekian ~
Catatan kecil :
Setiap cerita merupakan kisah nyata dari penulis sendiri dan beberapa nama, tempat dan peristiwa tidak dijelaskan secara eksplisit demi menjaga privasi dari penulis dan orang-orang yang berkaitan.
Semoga setiap kisah dapat menginspirasi saudara, menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saudara yang mungkin mengalami peristiwa yang serupa dan menjadi berkat bagi saudara. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.
Baca juga kisah lainnya tentang bagaimana proses demi proses yang kulalui dalam perjalanan iman bersama Tuhan Yesus.
1. Kesaksian Hidupku Dipulihkan Tuhan Yesus dan Lahir Baru (Part 1) |Kisah ini terjadi saat aku mulai hidup jauh meninggalkan Tuhan didalam hidupku
2. Kesaksian Hidupku Dipulihkan Tuhan Yesus dan Lahir baru (part 2) | Aku yang sejak awal hanyalah kristen KTP
3. Pewahyuan Nama Anak Keduaku Sebagai Ezralceo Sean 'Penolong Yang Kuat Hadiah dari Tuhan dan Sebagai Tanda Kembali Ke Dalam Rencana Tuhan'
4. Kesaksianku Aku Ditolong Tuhan | Kesaksianku Semua Dokumen-Dokumen Paspor, Akta Kelahiran, KK dan Affidavit Anakku Selesai Tepat Waktu | Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan Yesus | Mujizat Dihari Natal
5. Aku Mendapat Rhema dan Kuucapkan ! | Firman Tuhan Yang Menjadi Rhema | Aku Tahu Itu Rhema Buatku | Peperangan Roh Bertarung Melawan Negeri Penyembah Berhala
"Oh, tentu saja dik, kamu harus kuliah agar ada dikeluarga kita yang jadi sarjana dan kita doa sama-sama ya dik, supaya ada jalan terbaik untuk kamu bisa kuliah tahun ini" sahutku.
"Iya kak, aku akan berusaha sungguh-sungguh, lagipula aku kan anak pramuka kak aku pantang menyerah hehe." sahut adikku semangat.
Aku mendesah didalam hati, memikirkan keuangan kami untuk menguliahkan adikku. "Oh Tuhan, bukalah jalan bagi kami." desahku gundah. Aku memandangi wajah adikku yang sedang asyik menghabiskan makanannya. Sepiring penuh meluap nasi dengan lauk sambal teri pedas kesukaannya dan sayur tumis pucuk daun singkong plus tambahan sambal cabai. Hmmm..Adikku memang pecinta makanan pedas rupanya.
Kami adalah tiga saudara. Aku punya satu orang abang yang juga sudah menikah dan satu orang adik laki-laki. Jadi aku adalah anak tengah dan satu-satunya anak perempuan. Abangku dulu tidak kuliah sebab tidak ada biaya, begitu pula denganku aku juga tidak bisa kuliah dikarenakan keterbatasan dana dari orang tua kami, dimana ayahku hanya seorang pekerja swasta buruh pabrik. Tetapi saat tamat SMA aku langsung bekerja dan kemudian aku mulai kuliah sambil kerja. Tetapi hanya berlangsung sampai 4 semester saja oleh karena aku kemudian menikah dan pindah keluar kota mengikuti suamiku bekerja, dan kami langsung dianugerahkan seorang anak hingga aku memutuskan berhenti bekerja dan juga stop kuliah karena aku mengalami mual dan masa-masa ngidam. Tetapi hingga kini aku tidak meneruskan kuliah lagi.
Aku dan adikku memiliki hubungan yang cukup erat. Sejak kecil adikkulah yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, dan aku juga salah satu yang mengajarinya naik motor. Saat aku telah menikah dan pindah keluar kota, yang begitu kurindukan adalah adik kecilku saat itu. Namun ketika dia datang berkunjung kerumahku untuk pertama kalinya, tiba-tiba sosok anak kecil SD telah berubah menjadi anak SMP remaja. Aku sempat terkejut akan perubahannya. Hoho... adikku telah puber rupanya.
Kemudian dia mulai memasuki bangku SMA, dan tubuhnya semakin tinggi atletis.
Adikku ini memiliki karakter yang kuat. Dia adalah sosok yang percaya diri dan juga pintar. Dia memiliki jiwa kepemimpinan sehingga dia suka mengikuti berbagai kegiatan pramuka yang cukup melelahkan. Adikku cukup banyak memiliki prestasi baik dibidang akademik maupun non akademik. Namun keterbatasan biaya lah yang sering membuat langkahnya terbatas.
Bulan April 2018 adikku menyelesaikan UAS dan UN. Beruntung adikku dia termasuk kedalam angkatan dimana sistem penilaian menggunakan hasil UN (Ujian Nasional) telah dihapus. Dan kini sistem kelulusan telah berubah, yaitu mengambil nilai dari selama tiga tahun belajar di SMA dan tidak lagi semata-mata hanya berdasarkan hasil UN. Aku ingat di zaman angkatanku dan abangku dulu, dimana masih memakai hasil nilai UN dengan passing grade minimal. Jika hasil nilai dibawah passing grade minimal, maka dipastikan siswa tersebut tidak akan lulus dan harus mengulang setahun lagi. Dulu ada begitu banyak siswa yang tidak lulus sebab sistem pembulatan dikertas jawaban yang memakai pensil 2B ternyata sering tidak dapat terbaca oleh komputer dikarenakan pembulatan yang tidak penuh atau kurang tebal atau bahkan kertas yang berlubang oleh karena terlalu keras membulati kertas jawaban. Ada banyak anak yang menangis karena tidak lulus disetiap pengumuman kelulusan. Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Bahkan abangku sendiri merupakan salah satu anak yang tidak lulus kala itu dan harus mengulang sekolah kembali setahun lagi dan betapa frustasinya abangku saat itu.
Melalui pramuka adikku mengenal banyak orang dan mendapat banyak pengalaman baru yang perlahan mengubah pola pikirnya. Aku melihat adikku semakin dewasa dan memiliki problem solving yang baik jika sedang menghadapi suatu persoalan. Adikku cukup konsisten didalam pramuka. Hingga dia semakin cinta pramuka. Perlahan tapi pasti dia mulai menampakkan prestasinya. Melalui pramuka untuk pertama kalinya dia menginjak tanah Jakarta dalam rangka RAINAS (Raimuna Nasional) yang diadakan 4 tahun sekali. Adikku sering mengikuti kegiatan-kegiatan perkemahan dalam dunia pramuka, dia semangat mencoba yakin semoga melalui pramuka dapat membuka jalan untuk masa depannya. Hal ini cukup bagus, begitu pikirku.
Namun, aku mulai sedikit khawatir akan adikku. Dia mulai semakin sibuk didalam kepramukaannya, dan dia mulai terlalu lelah dan tidak nafsu makan sehingga makannya mulai tidak teratur. Jam tidurnya pun mulai tidak terkontrol. Badannya yang dulu mulai terlihat gagah berisi mulai menjadi kurus. Ditambah pula dengan jerawat yang semakin banyak bermunculan diwajahnya. Oh, kasihan sekali adikku.
Aku mulai menasihatinya, namun dia seperti tidak mau mendengarkanku. Dia mulai terlalu obsesi dengan kepramukaan. Kalau pulang sekolah dia tidak langsung makan melainkan tidur mengunci diri didalam kamar. Lelah katanya. Tapi anehnya kalau tiba-tiba mendapat telepon dari kakak pembina dipramuka, dia langsung sigap lupa akan lelah dan perut laparnya. Nah, apalagi kalau hari minggu mau ke gereja, bangun setengah jam sebelum jam ibadah dimulai, dan itu juga karena kami bangunkan dengan sedikit memaksa. Sungguh ironi. Pramuka yang membawanya kedalam prestasi tetapi juga membuatnya menjadi pribadi yang lebih pemalas rupanya.
Suatu hari adikku mendapat tawaran masuk perguruan tinggi di Yogyakarta melalui kakak senior yang kuliah disana dan adikku mengenalnya melalui pramuka. Dia menawarkan adikku kuliah disana dan sebagai kakak seniornya, dia akan membantu adikku berhasil masuk kesana kalau-kalau adikku gagal memasuki tes SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri)
Lalu mulailah adikku berburu berbagai ragam tes masuk perguruan tinggi. Diantaranya adalah adikku mengikuti tes beasiswa dari perusahaan didaerah kami untuk kuliah D3 di Bandung, dan adikku juga mendaftar tes SBMPTN, lalu kemudian dia juga mengikuti tawaran tes beasiswa dari kabupaten masuk sekolah taruna STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) yang ada di Bekasi.
Ternyata tidak semudah itu untuk menjalani semua program tes-tes masuk perguruan tinggi. Dan yang jenisnya beasiswa sekalipun bukan berarti tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Adikku mengerjakan segala tes ini dan itu, hilir mudik antar kecamatan, dan juga dia jadi harus sering ke kota dimana kami tinggal disuatu daerah tingkat kecamatan saja. Bisa dibayangkan seberapa jauh jarak-jarak yang harus ditempuh antar kecamatan saja sudah berjam-jam apalagi kalau mau ke kota. Dan adikku berpergian hanya menggunakan motor kecil kesayanganku yang berteknologi
matic yaitu Honda Beat berwarna putih.
Disinilah letak salah satu pergumulan kami sekeluarga, yang mana lagi-lagi adalah tentang biaya. Belakangan ini usaha ledeng air yang keluargaku jalankan baru sekitar dua sampai tiga tahun saja, mulai mengalami kemerosotan. Disebabkan oleh karena air PDAM dari pemerintah yang akhirnya masuk kedaerah kami. Air dari pemerintah biayanya sangat jauh lebih murah sebab disubsidi dari pemerintah untuk masyarakat. Sehingga banyak pelanggan air kami yang berhenti berlangganan dan kalaupun masih berlangganan, pemakaian mereka sangat jauh berkurang sehingga mempengaruhi pendapatan usaha air ledeng kami dan pemilik usaha lainnya didaerah kami. Inilah dilemanya, disatu sisi aku lega masyarakat dapat menikmati air dengan biaya murah, namun disatu sisi pula kami mulai mengalami kebangkrutan.
Aku memang telah menikah dan sebetulnya tidak tinggal bersama orang tua dan abangku bersama istri dan anaknya dirumah keluarga besar kami. Namun seperti ceritaku dikisah-kisahku yang lain bahwa saat itu aku tinggal bersama keluargaku karena kehamilan anak keduaku Ceo dan aku tinggal disana sampai aku melahirkan dan Ceo berusia 6 bulan kemudian kami pindah lagi ke luar negeri. Dan tentu saja uang bulanan yang dikirim oleh suamiku untukku, kupakai juga untuk membiayai kebutuhan keluarga dan menolong keluarga. Dan abangku juga sudah bekerja, namun besarnya semua kebutuhan hidup sekeluarga, lalu untuk membiayai sekolah adikku, dan ditambah harus membayar utang dibank yang saat itu dipakai untuk membuka usaha keluarga dan hal lainnya membuat keluarga kami cukup masih bergumul diarea keuangan.
Lalu ternyata adikku tidak lulus ujian SBMPTN dan juga gagal mengikuti tes beasiswa dari perusahaan untuk kuliah D3 di Bandung. Adikku mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Dia mulai lesu. Sementara teman-temannya lulus SBMPTN bahkan ada yang lulus dalam beberapa jurusan sekaligus. Setiap postingan ucapan selamat di media sosial atas berhasil diterimanya anak-anak mereka di universitas membuat kami bersedih untuk adikku yang tidak lulus. Dan terbayang dibenak kami setiap perjuangan jerih lelah adikku memperjuangkan dirinya dan ditambah lagi biaya-biaya yang tidak sedikit telah dikeluarkan. Uuh..sesak rasanya.
Tetapi kami menyerahkan semuanya ditangan Tuhan. Lagi-lagi kami hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Segala pekerjaan dan usaha telah kami kerjakan dan sisanya kami serahkan kepada Tuhan. Perjalanan iman bersama Tuhan tentu ada suka dan dukanya. Dan berkat Tuhan tidak dilihat berdasarkan seberapa besar berkat yang diterima namun kekuatan untuk dapat melewati semuanya yang merupakan proses didalam dapur api untuk memurnikan kita. Mungkin saat ini adalah salah satu dapur api buat kami dan lebih khusus lagi buat adikku untuk membentuk dia menjadi pribadi yang lebih kuat lagi.
"Iya kak, aku tau." sahut adikku pilu.
"Lalu apa rencanamu kedepannya dik?" tanyaku kemudian.
"Aku akan tetap meneruskan sisa-sisa perjuanganku mendapat beasiswa di STTD kak, kan hasil tes tahap berikutnya belum keluar, dan masih ada harapan kak. Tetapi seandainya jika aku tidak lolos juga disini maka aku akan merantau ke Jogja saja kak, mungkin aku akan ambil tawaran dari kakak senior pramukaku kuliah disana dan aku akan kuliah sambil kerja. Dengar-dengar biaya kuliah di Jogja murah, dan biaya hidup disana juga jauh lebih murah daripada di Sumatera." jelas adikku tiba-tiba bersemangat kembali. Hmm..adikku memang sosok yang kuat, gumamku bersukacita.
Akhirnya hanya program beasiswa dari kabupaten untuk bersekolah taruna di STTD yang tinggal tersisa untuk adikku. Dan inilah yang paling sulit dari semua program masuk universitas yang dia ikuti dan inilah juga yang paling bergengsi dari semua yang diikutinya. Sungguh tak terbayang rasanya jikalau adikku sampai benar-benar lulus disini, rasanya sungguh menjadi kebanggaan dan sukacita bagi kami sekeluarga. Pertama dapat beasiswa penuh, lalu karena ini program dari pemerintah Kabupaten, maka setelah lulus dari STTD adikku langsung diangkat menjadi PNS level lumayan meskipun baru lulus dan langsung bekerja. Oh rasanya sangat menjanjikan. Tetapi kami bagai bertaruh dengan waktu pula, sebab semua tes-tes beasiswa STTD ini ada begitu banyak tahapan dan memakan banyak waktu, kalau adikku akhirnya tidak lolos maka dipastikan tahun ini dia tidak bisa kuliah karena sudah terlambat untuk mengikuti pendaftaran kuliah ditempat lainnya. Dan sebetulnya pula hanya 5 orang anak yang akan mendapat beasiswa, dan sisanya jika berhasil lolos tes sekalipun maka harus membiayai sendiri biaya kuliah di STTD yang ternyata sangat mahal dua sampai tiga kali lipat jika dibandingkan sekolah di universitas lainnya. Oh, bagai makan buah simalakama ini namanya.
Kami pun berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus. Aku bahkan pernah mengalami mujizat saat aku diluar negeri bisa kembali ke Indonesia meskipun sementara. Maka Tuhan Yesus juga pasti sanggup menolong membuka jalan bagi adikku. Tetapi tidak hanya berdoa saja, namun sikap hati dan perilaku kita sebagai anak Tuhan harus juga dijaga untuk tetap berada didalam kekudusan. Bapa disurga sangat mengasihi kita, Dia bahkan lebih dari ingin untuk selalu memberkati dan memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya. Sama seperti seorang ayah kepada anak kesayangannya, apalagi bahkan Bapa disurga yang adalah Tuhan yang begitu mengasihi kita.
Terpujilah nama Tuhan Yesus yang membentangkan langit dan menciptakan bumi dengan segala isinya. Akhirnya tahap demi tahap tes beasiswa STTD tersebut adikku berhasil melaluinya. Dan akhirnya adikku benar-benar lolos seleksi dan telah diterima menjadi salah satu taruna dari Sumatera. Adikku juga berhasil mendapatkan beasiswanya dan mendapat penempatan kerja PNS didaerah Sulawesi kelak jika telah lulus. Sungguh benar-benar suatu keajaiban adikku berhasil mendapatkan beasiswanya dan di STTD pula. Oh bangganya aku kepada Tuhan Yesus yang mengangkat adikku seperti ini. Sungguh bukan karena kuat dan hebatnya atau pintarnya adikku, namun semua ini benar-benar hanya karena anugerah Tuhan. Oh, thank you Jesus.
Mazmur 5:11 (TB) (5-12) Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu.
Terbayang dibenakku saat-saat perjuangan adikku dulu untuk bisa lolos seleksi tahap demi tahap. Adikku rela bergadang hanya untuk menunggu berhasil submit data oleh karena jaringan yang lelet. Adikku harus bolak balik kecamatan menempuh perjalanan bermil-mil jauhnya dibawah terik panasnya matahari yang begitu menyengat maupun hujan deras hanya menggunakan motor Honda Beat kecil yang sudah hampir menjadi ringkih karena sebegitu seringnya dipacu dijalan berbatu-batu, becek berdebu dengan tidak wajarnya yang seharusnya motor jenis ini hanya bisa dibawa diaspal mulus jalanan kota saja. Sering kali adikku ditelepon mendadak untuk mengikuti pelatihan ini dan itu atau untuk tes ini dan itu dari pemerintah kabupaten katanya, dan mereka sengaja memberi informasi mendadak untuk melatih mental dan fisik para calon taruna sebab sekolah taruna di STTD juga berbasis semi militer. Belum lagi biaya-biaya operasional yang harus kami keluarkan selama perjalanan tes ini.
Kini setahun sudah adikku telah menjalani masa-masa menjadi taruna di STTD Bekasi. Tinggal tersisa tiga tahun lagi agar adikku berhasil lulus sampai D4 yang setara dengan S1. Ada suatu cerita pula dibalik D4 ini, yaitu saat disuruh memilih program studi dari D1, D2, D3 sampai D4 ternyata setiap program studi semakin tinggi maka semakin kecil kuota beasiswa bagi setiap anak yang berarti semakin kecil potensi kelolosannya. Sehingga akhirnya banyak anak yang tidak berani memilih program yang lebih tinggi dan banyak yang memilih program D1, D2 dan D3 saja dengan harapan agar mereka lebih besar mendapat peluang beasiswanya dan jikalau ingin melanjutkan lagi lebih mudah untuk masuk STTD nya lagi tetapi harus dengan biaya sendiri tentunya jika melanjutkan sendiri. Nah, adikku sendiri tidak tergoyahkan dia tetap sejak awal menargetkan D4. Sehingga puji Tuhan ketika dia berhasil lolos, dia benar-benar mendapat program D4 dengan beasiswa. Haleluya !
Dan kini kami pun mengerti mengapa adikku diijinkan Tuhan untuk tidak lolos SBMPTN dan gagal mengikuti tes beasiswa D3 ke Bandung, ternyata karena justru kalau adikku lolos disana maka akan membuat kami bingung kemana sebaiknya adikku melanjutkan pendidikannya. Sebab semuanya berbenturan dengan waktu, terbayang seandainya dia lulus seleksi SBMPTN tentulah ditengah-tengah dia masih mempunyai harapan dan mengikuti tes beasiswa STTD dia juga terpaksa mengikuti program mahasiwa baru di kampus saat itu karena masuk dikampus lebih awal, lalu tentu pula harus membayar biaya pendaftaran ulang dengan jumlah yang tidak sedikit. Begitupula dengan kalau-kalau lulus beasiswa D3 ke Bandung entah akan bagaimana jadinya. Ternyata Tuhan mau melepaskan kami dari biaya-biaya ini dan mau memfokuskan kami kepada beasiswa STTD yang terbaik yang telah Tuhan Yesus sediakan. Lalu aku pun teringat 3 tahun yang lalu adikku juga sempat sangat kecewa karena tidak lulus ujian seleksi masuk SMA bergengsi di kotaku. Kami pun baru mengerti sebab Tuhan benar-benar telah menyediakan beasiswa STTD ini untuk adikku. Karena kalau dia ada di SMA bergengsi di kota itu, maka tentulah adikku tidak bisa ikut seleksi program beasiswa STTD ini karena program beasiswa diadakan oleh Pemda Kabupaten sehingga tidak termasuk sampai provinsi di ibu kota. Sedangkan lokasi SMA favorit impian adikku dulu itu ada dikota. Dan terbayang pula tentu adanya biaya masuk kesekolah itu jika melalui program beasiswa sekalipun dan rata-rata yang masuk kesana memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Oh Tuhan, karyaMu memang luar biasa, rencanaMu indah dan rancanganMu adalah rancangan damai sejahtera.
Saat ini ketika aku ada di luar negeri dan adikku ada di Bekasi kami menjadi cukup sulit berkomunikasi. Apalagi karena peraturan yang cukup ketat menjadi pelajar taruna tidak boleh sembarangan membawa alat komunikasi. Adikku bercerita betapa kerasnya pendidikan taruna yang menjadikan dia menjadi pribadi yang semakin takut akan Tuhan dan merasa benar-benar ingin mengandalkan Tuhan. Karakternya menjadi benar-benar terbentuk. Kini hanya Tuhan Yesus lah yang benar-benar dapat menyertai adikku disana. Tuhan Yesus memberkati. AMEN.
Revisi tulisan dari penulis
( Confession )
Jujur, aku sedih melihat tubuh adikku yang semakin kurus saja sebab kadang-kadang dia tidak makan katanya untuk menghemat biaya atau juga kadang karena sudah terlalu lelah sehingga tidak nafsu makan. Tetapi cukup beruntung adikku adalah seorang anak pramuka sehingga segala tes fisik seperti ini sudah biasa adikku lakoni sehingga dia tidak terlalu terkejut. Tetapi kami juga harap-harap cemas sebab ada banyak anak yang ikut mendaftar menjadi saingan berkompetisi, dan juga kami mengkhawatirkan kalau-kalau ada intrik-intrik KKN (korupsi kolusi dan nepotisme) didalam program ini, sehingga sekalipun misalnya adikku secara fisik dan tes akademik lolos, namun jikalau ada oknum-oknum tertentu didalamnya tentu bisa saja terjadi kecurangan. Lalu kami mulai berifikir juga untuk jaga-jaga dan waspada dan kami pun memutuskan untuk memakai hikmat duniawi, tidak tanya Tuhan dan sempat ditegur hati nurani yang aku yakin itu Roh Kudus, namun sepertinya kami terlalu takut kalau adikku dicurangi, akhirnya kami mencoba menghubungi seseorang yang katanya bisa menolong back up ke jalur bupati dan kami memberi uang kepada beliau awalnya satu juta lalu saat adikku sudah lulus kami beri ucapan terimakasih lagi sebanyak satu juta.
Tetapi saat-saat ini, Roh Kudus tegor saya dan jujur saya akhirnya berani revisi tulisan saya ini setelah pernah mempublikasikannya, juga setelah saya dapat tegoran dari Tuhan melalui seorang hamba Tuhan dalam khotbahnya di Youtube yang berjudul Warning! Ketidakmurnian dan Akibatnya. Sehingga akhirnya memberanikan saya menulis revisi ini. Namun sebetulnya saya sadari bahwa tanpa kami menghubungi orang tersebut dan memberikannya uang sekalipun, adikku pasti akan lulus dalam kemurnian bersama Tuhan. Tetapi kami melakukan kesalahan dan tidak benar-benar memakai iman kami, kami justru mencoba pakai cara-cara dunia karena takut kalau yang lain korupsi sekalipun kami murni. Dan memang kalau dilihat secara hasil dari nilai tes adikku rata-rata nilainya tinggi dan kami punya keyakinan bahwa adikku akan lulus, namun hanya karena kami khawatir akhirnya adikku akan tersingkir kalau kami tidak ikut mem-back up, sehingga kami ikut pakai cara back up segala yang artinya sama saja dengan menyogok yang bertentangan dengan kemurnian didalam Firman Tuhan , dan Tuhan membenci hal itu. Baca Yesaya 1:22-23a Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air. Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. dan Yesaya 1 : 25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.
Dan entah benar atau tidak orang tersebut bisa membantu kami atau entah sudahkah beliau membantu kami, atau ternyata malah beliau tidak ada kontribusi sama sekali, hanya kebodohan kami yang memakai hikmat duniawi, sebab ternyata pada akhirnya semua para peserta tes yang dua belas orang akhirnya diluluskan Pemda Kabupaten dengan berbagai pertimbangan termasuk adikku. Benar-benar rasanya seperti ditampar kebenaran Firman Tuhan, bahwa toh pada akhirnya sisa yang dua belas ini lulus semua, dan tidak bergantung pada hikmat duniawi yang kami pakai. Yang mana sebetulnya Tuhan memang sudah sediakan kelulusan bagi kedua belas anak dari satu kabupaten ini. Bahkan contohnya ada yang ditengah-tengah tes mengundurkan diri karena biaya tes fisik yang cukup mahal saat itu, dan kebetulan anak itu lulus ujian SBMPTN dan sudah membayar biaya registrasi yang tidak sedikit jumlahnya untuk masuk universitas. Tetapi mengejutkan ternyata dari Pemda Kabupaten tidak mengizinkan anak itu mengundurkan diri begitu saja malahan dibantu biaya tes fisik untuk STTD. Wow, sungguh mujizat bisa terjadi kepada siapa saja. Tuhan mengasihi semua orang. Didalam Matius 5:45 b. Tuhan menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
Dalam kesaksian saya ini, saya ingin mengatakan bahwa kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus saja. Bahkan saat kami telah berbuat ketidakmurnian, Tuhan Yesus masih mengasihi kami. Tuhan tidak serta merta mencabut pertolonganNya bagi kami. Tetapi dengan kasih, Ia menegor saya dan kita semua dan memberi kita kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan kita. ~ sekian ~
Catatan kecil :
Setiap cerita merupakan kisah nyata dari penulis sendiri dan beberapa nama, tempat dan peristiwa tidak dijelaskan secara eksplisit demi menjaga privasi dari penulis dan orang-orang yang berkaitan.
Semoga setiap kisah dapat menginspirasi saudara, menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saudara yang mungkin mengalami peristiwa yang serupa dan menjadi berkat bagi saudara. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.
Baca juga kisah lainnya tentang bagaimana proses demi proses yang kulalui dalam perjalanan iman bersama Tuhan Yesus.
1. Kesaksian Hidupku Dipulihkan Tuhan Yesus dan Lahir Baru (Part 1) |Kisah ini terjadi saat aku mulai hidup jauh meninggalkan Tuhan didalam hidupku
2. Kesaksian Hidupku Dipulihkan Tuhan Yesus dan Lahir baru (part 2) | Aku yang sejak awal hanyalah kristen KTP
3. Pewahyuan Nama Anak Keduaku Sebagai Ezralceo Sean 'Penolong Yang Kuat Hadiah dari Tuhan dan Sebagai Tanda Kembali Ke Dalam Rencana Tuhan'
4. Kesaksianku Aku Ditolong Tuhan | Kesaksianku Semua Dokumen-Dokumen Paspor, Akta Kelahiran, KK dan Affidavit Anakku Selesai Tepat Waktu | Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan Yesus | Mujizat Dihari Natal
5. Aku Mendapat Rhema dan Kuucapkan ! | Firman Tuhan Yang Menjadi Rhema | Aku Tahu Itu Rhema Buatku | Peperangan Roh Bertarung Melawan Negeri Penyembah Berhala
Komentar
Posting Komentar