Kesaksian Hidupku Dipulihkan Tuhan Yesus dan Lahir Baru (Part 1) |Kisah ini terjadi saat aku mulai hidup jauh meninggalkan Tuhan didalam hidupku.

Kisah ini terjadi saat aku mulai hidup jauh meninggalkan Tuhan didalam hidupku.  Aku adalah gambaran bangsa Israel yang tidak taat dan setia atau seperti anak domba yang terhilang namun ditemukan kembali. Aku adalah seorang wanita kelahiran tahun 1992 dan lahir didalam keluarga kristiani.  Sejak kecil aku cukup rajin ke gereja dan berada di sekolah minggu bersama kakak-kakak layan.  Aku mengenal Kristus dan sangat suka membaca alkitab dan buku-buku cerita alkitab yang dibawa kakek dari kampung. Kemudian saat aku mulai belajar membaca alkitab, salah satu yang paling berkesan saat itu adalah Kitab Wahyu. Aku merasa takjub dengan nubuatan-nubuatan penglihatan yang ada didalam Kitab Wahyu. Dan tiba-tiba aku merasa sangat ngeri dan bertanya-tanya didalam hati bagaimanakah menjadi orang yang dikasihi Tuhan dan terluput dari hal-hal menakutkan seperti yang diceritakan di Kitab Wahyu. Saat itu aku berusia ditingkat Sekolah Dasar, sehingga banyak yang belum dapat aku mengerti.

Ada satu kalimat penutup dibeberapa pasal ayat di alkitab yang selalu terngiang-ngiang dibenakku 'berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan melakukannya'  Namun.. seiring berjalannya waktu aku bertambah dewasa aku masih belum mengerti hidup yang dikehendaki Tuhan itu bagaimana . Aku semakin sibuk dengan hari-hari sekolahku dan berbagai-bagai aktivitas yang semakin membuatku jauh dari hadirat Tuhan. Hingga suatu hari saat aku menginjak bangku SMA seorang hamba Tuhan dari Jawa datang dalam kehidupan keluargaku mengenalkan kami kembali akan Tuhan. Lalu entah bagaimana ceritanya aku agak lupa, beliau mengikuti IDTC ( Intensive Discipleship Training Course ) yang didirikan oleh DR. Maqdalene Kawotjo (dipanggil Ibu Maq ) atas panggilan Tuhan dalam hidup Ibu Maq mendirikan suatu pemuridan. Hamba Tuhan dari Jawa tersebut pulang dari IDTC membawa buku tulisan kesaksian tentang perjalanan iman Ibu Maq bagaimana beliau hidup betul-betul mengandalkan Tuhan dan berkali-kali beliau mengalami mujizat dengan benar-benar diluar akal pikiran manusia.  Beliau yang hidup dekat dengan Roh Kudus dapat mendengar suara Tuhan dengan cara yang dapat beliau pahami .

Waktu membaca buku Ibu Maq, membuatku ternganga dan kagum namun juga sulit percaya kalau aku bisa hidup seperti itu. Selama ini aku mengira mana mungkin ditengah-tengah zaman seperti ini ada orang yang bisa hidup didalam kekudusan. Mana mungkin ada orang yang tidak berbohong sedikit, yang tidak mencuri sedikit seperti pelaku korupsi kecil-kecilan yang sering aku lihat terjadi dimana-mana disekitarku,  atau yang tidak berzinah sedikit. Karena aku berkaca akan hidupku sendiri dan keluargaku dan apalagi orang-orang disekitarku yang mengenal Allah maupun yang tidak.  Dimataku semuanya sama saja.

Kemudian aku kembali lagi hidup seperti biasanya dan kembali melanjutkan aktivitas biasa sehari-hari. Hati kecilku memang terusik dengan renungan-renungan dan kebenaran yang ditulis dibuku itu namun aku merasa tidak berdaya untuk hidup seperti beliau, aku melihat orang tuaku dan orang-orang gerejaku saja tidak melakukannya.  Aku sendiri terus terang memang bukan pelaku dosa yang terang-terangan, maksudku aku merasa sudah hidup sesuai norma-norma yang berlaku dimasyarakat dan hukum, seperti aku cukup rajin ibadah digereja, dan aku juga cukup hormat dan patuh kepada orang tua, aku tidak begitu suka atau berani keluyuran kemana-mana, aku juga tidak berkata-kata kasar, dan aku cukup berlaku sopan. Secara umum aku termasuk anak yang dikagumi guru dan para orang tua menganggap aku patut diteladani.


Pendeta dan gembala di gereja, para jemaat gereja dan juga orang tuaku semuanya secara umum merupakan gambaran orang yang baik-baik, kami cenderung adalah orang-orang yang berpendidikan baik dan bertutur kata baik kepada sesama dan kami cukup rajin ibadah atau ikut persekutuan jemaat, walau memang ada saja yang juga sangat jarang ibadah. Tetapi rasanya semua cenderung aman-aman dan baik-baik saja tampak dipermukaan. Sehingga tulisan ibu Maq sungguh membuatku cukup terusik dan tidak habis pikir kenapa Tuhan ingin umatNya harus hidup benar-benar didalam kekudusan dan membuatnya terlalu sulit untuk dilakukan. Bukankah sudah cukup hidup seperti yang kulakukan selama ini ?


Bertahun-tahun kemudian aku masih menyimpan didalam hati kebenaran itu namun masih tidak tahu dan tidak mengerti cara mengambil keputusan kalau seandainya Tuhan memanggilku menjadi alatNya sesuai dengan kehendakNya. Aku bertanya-tanya kapan waktu itu tiba,  dan kalau sudah tiba pastilah aku akan hidup sangat terikat,  begitu pikirku. Dan ya , selama masa penantian dan ketidaktahuanku itu aku juga tetap hidup seperti biasa yang kuanggap sudah cukup baik dimata Tuhan namun sebetulnya aku cenderung terus melakukan dosa dan akhirnya semakin jauh dari Tuhan. Aku jatuh dalam dosa kenajisan, aku juga terkadang berbohong kepada orang tua, kepada atasan (saat itu aku sudah bekerja setelah tamat SMA ) dan kepada siapapun yang menurutku cuma bohong kecil-kecilan demi kebaikan atau disebut white lies yang sudah sangat biasa orang-orang lakukan, lalu aku ini juga kadang-kadang suka iri kalau lihat orang lain yang lebih cantik, lebih kaya, lebih maju dibanding aku, aku juga rendah diri atas sesuatu yang tidak aku punya secara fisik maupun uang maupun hubungan, tetapi malahan aku juga menjadi sombong kalau aku punya sesuatu yang melebihi orang lain.  Secara umum tampak luar aku adalah manusia yang tampak baik diluar namun sesungguhnya aku penuh akar kepahitan, kekecewaan, kecemburuan, kenajisan, kebencian, kemarahan, ketertolakan yang bersemayam didalam jiwaku. Dan inilah yang menimpa orang-orang kristen hari-hari ini . Mengaku orang percaya namun hidup dalam kefasikan setiap hari sebagaimana hidup yang aku lakoni. Bahayanya banyak anak Tuhan tidak mengerti hal ini,  banyak yang tidak selesai dengan gambaran dirinya yang seharusnya adalah harus menyerupai Kristus. Kedagingan dan tipu daya iblis membuat iman orang-orang kristen mengira hidup mereka sudah sesuai dengan yang Tuhan inginkan terutama mereka yang hidupnya merasa selalu diberkati didalam materi keuangan, anak-anak yang pintar dan sehat, promosi jabatan, kesehatan yang masih baik-baik saja dan lain sebagainya. Umat Tuhan mengukur perkenanan Tuhan dengan ada atau tidak, besar atau kecil berkat Tuhan didalam hidupnya.

Bekerja di Perusahaan Besar 

Aku lulus SMA dan tidak bisa kuliah karena biaya. Aku sempat tertekan dengan kondisi ini namun Tuhan menolong membuka jalan yaitu aku langsung diterima bekerja disalah satu cabang perusahan besar berskala asing didaerahku. Karena aku juga bersekolah di sekolah yayasan milik perusahan itu oleh karena ayahku yang juga bekerja disana sehingga aku mendapat kemudahan untuk ikut tes masuk perusahaan tanpa CV terlebih dahulu melainkan kalau seandainya lulus baru CV menyusul. Saat itu aku masih berusia 17 tahun dan dalam peraturan ketenagakerjaan harus minimal berusia 18 tahun baru boleh bekerja. Hasil score testku cukup bagus dan namaku di keep oleh HRD dan tepat diusiaku yang ke-18 aku pun mulai bekerja disana. Aku ditempatkan didalam divisi manajemen. Dan aku tahu semuanya itu terjadi karena mujizat Tuhan bukan karena kehebatanku karena aku mengerti betul tes saat itu benar-benar cukup sulit dan benar-benar baru bagiku yang baru saja lulus dan cuma lulus SMA. Saat itu kebetulan ada orang yang pernah ikut tes masuk perusahaan semacam tes psikotes, dan beliau mengajarkan kepadaku dan temanku tips dan trik cara menjawab soal, dan kira-kira soal apa yang akan keluar. Puji Tuhan oleh karena itu aku jadi lebih siap menghadapi tes psikotes tersebut. Sehingga aku bisa punya nilai yang cukup baik. Aku tidak mengerti setiap kebaikan Tuhan dalam hidupku adalah cara Tuhan memanggilku, namun aku cuma berterimakasih lewat mulutku namun hidupku tidak juga berubah. Tuhan terus menerus memberkatiku, jalanku terus dipermudah, jalan-jalan terbuka mulus didepanku, aku mulai kuliah sambil bekerja, dan aku mulai dikenal oleh banyak orang.  Yang dulu cuek kepadaku mulai memuja-mujiku, aku yang dulu saat kanak-kanak sampai SMA cuma orang biasa-biasa saja dan cenderung punya kenangan yang menurutku kesulitan dalam keuangan dan didalam pergaulan, malah akhirnya mulai diperhatikan orang,  juga atasanku memuji pekerjaanku dan aku mulai dipromosikan.


Menikah dengan Pria Beda Warga Negara yang Berasal dari Keluarga Penyembah Berhala

Seiring semuanya itu, mulai ada beberapa pria yang mencoba mendekatiku. Aura sebagai wanita yang sudah mulai dewasa dan pekerjaanku di perusahaan itu membuat aku mulai disegani dan dilirik pria. Satu per satu mereka mulai mengajakku berkenalan namun aku tolak oleh karena sebagian karena gengsiku yang dihasilkan oleh kesombonganku dan sebagian karena takut akan Tuhan . Ya, aku menyesal kenapa aku hanya memiliki hati yang sebagian takut akan Tuhan saat itu. Jika aku menolak mereka karena aku takut akan Tuhan, tentunya itu adalah hal yang baik. Sebab kebanyakan mereka adalah pria yang tidak mengenal Allah dan kalaupun pria yang mengenal Allah mereka juga sama sepertiku yang hanya kristen KTP.  Namun, ternyata aku juga menolak mereka karena kesombonganku, karena merasa mereka belum memiliki gaji yang tinggi dan belum hidup mapan, sungguh kesombongan yang bodoh.  Sehingga karena aku yang sebagian saja punya rasa takut akan Tuhan dan juga masih banyak memakai kedaginganku, akhirnya aku pun malah menikah dengan suamiku yang justru tidak mengenal Allah sama sekali.

Kenapa bisa seperti itu ? Ya, Karena iman suam-suam kuku yang aku punya.

Suamiku ini adalah seorang pria dari negeri asing. Seseorang yang sudah memiliki level yang cukup tinggi diperusahaan tempatku juga bekerja.  Dengan gaji seorang TKA (Tenaga Kerja Asing ) dengan hitungan gaji dolar Amerika dimana gajiku dengan gajinya berkali-kali lipat perbedaannya. Karena walaupun aku berada di divisi manajemen diperusahaan, namun tidak bisa dipungkiri aku hanyalah lulusan SMA, sehingga berpengaruh pada gaji yang kuterima. Akan tetapi saat itu, dasar imanku kepada Kristus jugalah yang tidak langsung menerima dia menjadi suamiku.  Karena walau bagaimanapun juga didasar hatiku aku masih takut akan Tuhan. Aku tau tidak boleh menikah dengan orang yang tidak percaya.  Sehingga didalam tekadku itu pokoknya setidaknya pria yang akan menjadi suamiku itu adalah orang yang seiman. Bahkan pernah ada seorang dokter gigi non kristiani jatuh cinta kepadaku dan ingin menikah denganku. Dia berkata bahwa dia akan tetap diagamanya dan aku boleh tetap diagamaku kalau kami menikah. Namun aku tau betul aku tidak bisa menikah dengannya, sehingga mau tidak mau aku menolak dia.

Tetapi, beda cerita dengan suamiku waktu itu dia gigih terus berjuang untuk mendapatkanku. Awalnya jelas aku tidak mau. Aku terus menerus menolaknya, dengan sungguh-sungguh aku mengutarakan kepadanya tentang perbedaan agama, budaya , bahasa dan pola pikir. Namun entah apa yang ada dipikirannya waktu itu dia terus berusaha agar mendapatkan hatiku. Selama hampir 2 tahun dia terus berjuang gigih, hingga dia pun menjalani katekisasi lalu disidi dan dibaptis.

Melihat pria itu bahkan sampai dibaptis dan datang ke keluarga besarku dengan sungguh-sungguh dan berani langsung melamarku dihadapan orang tuaku, membuat aku sudah tidak tau alasan apa lagi untuk menolak dia. Hatiku mulai jatuh cinta kepadanya. Dengan segala kesungguhan yang dia tunjukan kepadaku dia juga terkadang mengirim cokelat, boneka, kalung, parfum, gelang, jam tangan dan berbagai-bagai macam benda-benda mahal yang tidak pernah sama sekali seseorang lakukan kepadaku. Sebagai seorang wanita akhirnya aku pun luluh dan bersedia menikah dengannya.

Tidak semudah itu urusan pernikahan kami, ada banyak kendala. Mulai dari urusan wedding organizer yang kurang profesional, urusan souvenir, segala macam surat yang harus diurus berkenaan dengan pernikahan dua warga negara, biaya yang mulai membengkak, dan pihak-pihak keluarga yang mulai mencari masalah karena ada yang kurang senang dengan rencana pernikahan kami. Sungguh begitu banyak tekanan, hingga akhirnya aku mulai mencari Tuhan aku berdoa menangis dihadapan Tuhan. Aku merasa tidak mengerti dengan keadaanku. Aku betul-betul bingung dan aku mulai berdoa apakah benar Tuhan mengirim dia untuk menjadi suamiku. Saat itu imanku mulai sempat tumbuh, aku mulai berharap kepada Tuhan. Tetapi Tuhan yang menyelidiki hati nurani kita mengetahui segala sesuatu murni atau tidaknya doa kita. Dan aku baru sadari saat ini bahwa saat itu imanku tumbuh hanya bertahan sesaat saja, karena saat itu aku berdoa mencari Tuhan hanya karena berharap kepada mujizatNya saja untuk membuka jalan atas rencana pernikahanku agar tidak gagal. Saat itu seolah-olah aku cukup rohani sekali,  tetapi sebetulnya aku masih memakai kedagingan yang diselimuti oleh kerohanianku. Benar saja, kerohanian palsuku terlihat pula saat kelihatannya Tuhan mulai membuka jalan buat rencana pernikahanku, disitu aku mulai bertingkah lagi, aku mulai meremehkan kasih karunia Tuhan atas hidupku lagi. Setelah itu apa yang aku lakukan adalah senantiasa meminta Tuhan menolong aku karena aku sudah terlanjur malu atas rencana pernikahan kami yang telah diketahui oleh banyak orang yang tentunya akan menjadi rasa malu yang begitu besar kalau kami tidak jadi menikah, dan pula pria ini bahkan sampai mau dibaptis lho Tuhan, berarti kan ini dari Tuhan dan tugaskulah menuntun calon suamiku untuk lebih mengenal Allah karena jiwanya sudah diselamatkan, itulah pikirku saat itu. Bahkan saat itu para bos-bos asing para atasanku sudah ikut mengetahui rencana pernikahan kami dan mereka sangat mendukung kami. Tetapi itulah sebetulnya setiap anak Tuhan harus memiliki roh kepekaan agar dapat membedakan mana pencobaan dari iblis dan mana ujian dan berkat dari Tuhan. Kalau aku dulu sungguh-sungguh didalam Tuhan dan memiliki kedekatan dengan Roh Kudus tentu aku tidak perlu mendesak Tuhan namun seharusnya aku meminta Tuhan melakukan sesuai dengan kehendakNya sekalipun pria itu mau sampai dibaptis segala, dan sekalipun jikalau aku seolah-olah harus menanggung malu segala, semua peristiwa harus diuji lagi kebenarannya. Aku sendiri yang bodoh.

Hingga akhirnya, entah bagaimana caranya semua masalah satu persatu dapat terselesaikan dan kami pun menikah diberkati digereja secara resmi dalam agama dan hukum kedua negara. Singkat cerita aku mulai memasuki babak baru dalam hidupku dan dua bulan kemudian kami langsung diberkati Tuhan untuk memiliki anak. Tentu saja aku semakin terlena dalam kehidupan pernikahanku bersama suamiku yang notabenenya adalah bos asing dengan gaji dolar. Otomatis kehidupanku juga mulai berubah terutama dalam segi keuangan. Namun berkat Tuhan didalam hidupku tidak serta merta membuatku menyadari panggilanku sebagai anak Tuhan, aku malah semakin sibuk menikmati berkat Tuhan tetapi lupa akan Tuhan yang memberikan berkat itu sendiri. Aku semakin terlena dan mulai semakin menjauh dari Tuhan, aku mulai malas kegereja dengan berbagai alasan entah itu karena kehamilan, karena malas kepanasan dan ribet kegereja, kemudian karena mengurus bayi setelah melahirkan, atau juga karena kesal hati melihat suami yang setelah bertobat dan dibaptis waktu itu ternyata malas berdoa dan kegereja.

Lanjut ke part II...

Lanjut ke part II...

Catatan kecil :  
    Setiap cerita merupakan kisah nyata dari penulis sendiri dan beberapa nama, tempat dan peristiwa tidak dijelaskan secara eksplisit demi menjaga privasi dari penulis dan orang-orang yang berkaitan. 

Semoga setiap kisah dapat menginspirasi saudara, menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saudara yang mungkin mengalami peristiwa yang serupa dan menjadi berkat bagi saudara. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amen.

Baca juga kisah lainnya tentang bagaimana proses demi proses yang kulalui dalam perjalanan iman bersama Tuhan Yesus.


1. Pewahyuan Nama Anak Keduaku Sebagai Ezralceo Sean 'Penolong Yang Kuat Hadiah dari Tuhan dan Sebagai Tanda Kembali Ke Dalam Rencana Tuhan'

2. Kesaksianku Aku Ditolong Tuhan | Kesaksianku Semua Dokumen-Dokumen Paspor, Akta Kelahiran, KK dan Affidavit Anakku Selesai Tepat Waktu | Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan Yesus | Mujizat Dihari Natal

3. Aku Mendapat Rhema dan Kuucapkan ! | Firman Tuhan Yang Menjadi Rhema | Aku Tahu Itu Rhema Buatku | Peperangan Roh Bertarung Melawan Negeri Penyembah Berhala

4. Cerita Kesaksian Bagaimana Adikku Mendapat Beasiswa Masuk Sekolah STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) di Bekasi | Sekolah Taruna Milik Pemerintah | Kejadiannya Sungguh Ajaib

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mendapat Rhema dan Kuucapkan ! | Firman Tuhan Yang Menjadi Rhema | Aku Tahu Itu Rhema Buatku | Peperangan Roh Bertarung Melawan Negeri Penyembah Berhala

Cerita Kesaksian Bagaimana Adikku Mendapat Beasiswa Masuk Sekolah STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat) di Bekasi | Pertobatan | Teguran dari Roh Kudus | Revisi Tulisan dari Sebelumnya | Sekolah Taruna Milik Pemerintah | Kejadiannya Sungguh Ajaib